oleh

​Memahami Makna Upacara Adat “Ngalungsur” di Kampung Naga



SALAWU, (KAPOL).-
Kampung Naga adalah salah satu destinasi wisata adat dan budaya yang dimiliki Kabupaten Tasikmalaya. Kampung yang terletak di Desa Neglasari Kecamatan Salawu ini memiliki banyak keanekaragaman tradisi yang sampai sekarang masih dipertahankan.

Satu dari sekian banyak adat tradisi yang masih lestari di Kampung Naga adalah  Upacara Adat Ngalungsur. Upacara ini dilaksanakan lepas masyarakat adat Kampung Naga panen hasil bumi. Proses mengganti hasil panen dengan bibit yang baru untuk dipanen di kemudian hari disebut dengan “ngaluruh.”

Tapi siapa sangka jika upacara adat Ngaluruh di Kampung Naga ini memiliki filosofi makna yang dalam. Tidak hanya sekedar seremonial belaka. Lantas apa makna filosofi upacara adat Ngalungsur di Kampung Naga?

Kapolda Jawa Barat, Irjen Polisi Anton Charliyan yang menyempatkan diri hadir di upacara adat Ngaluruh di Kampung Naga, Jum’at (24/3/2017) menuturkan secara filosofi, salah satu keberhasilan sebuah generasi itu saat bisa mengganti sesuatu yang lama dengan sesuatu yang baru dan lebih baik.

“Artinya ada proses regenerasi di sini. Karena disinilah terjadi siklus dan pergantian,” kata Anton.

Berkaitan dengan kepemimpinan, lanjut Anton, ngaluruh juga memiliki arti kaderisasi. Anton yang aktif dalam gerakan kebudayaan Sunda menuturkan pemimpin yang berhasil adalah yang mampu mencetak kader-kader baru yang lebih baik.

“Siklus kepemimpinan dan kaderisasi juga terjadi di sini,” kata Anton.

Anton pun berharap adat budaya semacam ini bisa terus dijaga dan lestari di Indonesia. Sebab, kata Anton, menjadi sebuah keharusan bagi warga manapun di Indonesia untuk ngamumule adat dan budayanya masing-masing.

“Yang Sunda silahkan ngamumule adat budaya Sunda. Yang Jawa dengan adat budaya Jawanya atau yang lainnya. Karena kita Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu ikatan,” kata Anton. (Imam Mudofar)

BACA JUGA