​Mimpi Tukang Becak di Singaparna untuk Naik Haji Akhirnya Terwujud

RELIGI22 views


SINGAPARNA, (KAPOL).-
Menunaikan ibadah haji ke Makkah al Mukaromah adalah mimpi setiap umat muslim. Terlebih naik haji merupakan bagian dari rukun Islam nomor ke lima setelah Syahadat, Shalat, Zakat dan Puasa.

Jika biasanya ibadah haji identik dengan orang-orang yang sudah berkecukupan secara materi, tapi ternyata panggilab naik haji bisa menghampiri siapa saja. Bahkan orang yang hidup dengan ekonomi pas-pasan seperti halnya yang dialami oleh Nunu Siswanto (63), tukang becak yang sehari-hari mangkal di perempatan Pondok Pesantren Cipasung Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.

Mimpi Nunu dan istrinya, Iis Gandawati (58) untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah ini sebentar lagi akan terwujud. Warga Kampung Babakan Sindang Desa Cipakat Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya ini tercatat sebagai calon jamaah haji keloter 92 yang siap berangkat tanggal 24 Agustus 2017 mendatang.

Panggilan batin Mang Nunu, begitu panggilan akrabnya, memang tidaklah instan. Sebab ia harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah hanya dengan mengandalkan menggayuh sadel becak. Jika ada penghasilan tambahan pun hanya dari buruh panggul kasus kapuk dan mencuci mobil tetangga, namun tidak menentu dan penghasilannya pun tidak seberapa.

“Alhamdulilah pada tahun ini saya bisa berangkat menukaikan ibadah haji bersama istri. Dulu saya daftar tahun 2011 dan harus menunggu daftar antrian 6 tahun,” jelas dia.

Mang Nunu dan Ceu Iis tergabung dalam kelompok terbang 92 yang siap berangkat pada tanggal 24 Agustus depan. Dirinya pun telah mempersiapkan segalanya, termasuk menghapal seluruh amalan beribadah haji. Namun yang terpenting yakni kesiapan mental dan fisik agar mampu menjalankan seluruh rukun dan sunat ibadah haji.

Diceritakan dia, ilafat akan naik haji sebenarnya sudah tergambar sejak usia dia 12 tahun. Dimana kala itu ia sering ikut ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan. Salah seorang ulama disana meramalkan jika pada suatu hari nanti dirinya bakal mampu pergi ke tanah sucim dan benar saja, pada tahun 2017 semua ramalan itu terwujud.

Semula yang hendak berangkat haji ini hanya istrinya saja, sementara Mang Nunu mengumpulkan biaya dulu baru menyusul kemudian. Namun hal ini mendapatkan penolakan ke 3 anaknya dan menginginkan keduanya bisa berangkat.

Akhirnya ia pun banting tulang sekuat tenaga guna mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk uang muka daftar haji dari menggayuh beca. Meski penghasilan perharinya tidak lebih dari Rp 40.000 – Rp 60.000, namun nyatanya sedikit demi sedokit uang pun terkumpul. Hingga akhirnya mampu mengumpulkan senilai Rp 9.000.000 untuk daftar dirinya dan Rp 5.000.000 untuk daftar istrinya.

“Setelah daftar itu, saya makin giat menarik beca. Kadang membantu pembuatan kasur kapuk, mencuci mobil tetangga, memasang tenda kawinan. Pokonya apa saja yang bisa dilakukan, saya kerjakan,” ujar dia.

Semangatnya ngabecak makin menggebu-gebu ketika ia tidak mau terkena ujroh (denda) senilai Rp 500.000 per tahun bila mana telat membayarkan angsuran biaya berangkat haji. Maka ia pun selalu tepat waktu membayar angsuran, bahkan mendapatkan predikat cukup baik dari KBIH yang memberangkatnya. Dan akhirnya pada tahun inipun Mang Nono maupun istrinya mampu membayar lunas seluruh biaya menunaikan ibadah haji.

Dirinya berharap, perjuangannya selama ini menggayuh beca demi naik haji bisa berjalan lancar. Dirinya pun memberi pesan, jika memang serius ingin naik haji maka tidak cukup diniatkan saja. Tetapi mulai dengan tindakan, salah satunya mulai mendaftar dari sekarang, iktiar yang kuat dan terpenting berdoa pada Alloh SWT. (Imam Mudofar)