​Refleksi Kemerdekaan, Belajar dari Sukarno

LINIMASA32 views

SINGAPARNA, (KAPOL).-

Berbicara tentang kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa lepas dari Sukarno. Sejarah mencatat Sukarno adalah founding father neger ini. Presiden pertama Indonesia yang digelari pahlawan dengan julukan Sang Proklamator.

Peringatan kemerdekan setiang tanggal 17 Agustus adalah momentum refleksi diri. Mengisi kemerdekaan hari ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dialog atau diskusi. Terlebih jika isi dari dialog kemerdekaan itu belajar buah-buah pemikiran para pendahulu. Salah satunya Sukarno.

Itulah yang dilakukan DPC Taruna Merah Putih Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (16/8/2016). Bekerjasama dengan Sukapura Institute, mereka menggelar diskusi tentang ideologi perjuangan Bung Karno dan sejarah pergerakan di Priangan Timur. Pesertanya mencakup generasi muda yang terhimpun di DPD KNPI Kabupaten Tasikmalaya, Pemuda Pancasila dan organisasi kepemudaan lainnya.

“Kita ingin mengisi kemerdekaan itu dengan ilmu. Sejarah salah satunya. Tujuannya agar bangsa ini tahu seperti apa sesungguhnya perjalanan kemerdekaan di negeri ini,” kata Ketua DPC Taruna Merah Putih Kabupaten Tasikmalaya, H. Demi Hamzah Rahadian.

Dihadiri tiga pembicara, Muhajis Salam dan Daryanto Tito Wardani dari Sukapura Institute dan Kang Adi dari Unikom Bandung, diskusi berlangsung hangat di pendopo Bupati Tasikmalaya Singaparna. Audien larut dalam pemaparan-pemaparan pemateri.

“Warisan terbesar dari Sukarno untuk bangsa ini adalah Pancasila. Ini yang kemudian menjadi alat pemersatu berbagai suku dan budaya di tanah air tercinta,” kata Adi.

Sementara Muhajir Salam menyampaikan tentang bagaimana hubungan antara Priangan dengan Sarekat Islam pada waktu itu. Pasalnya organisasi Sarekat Islam yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto juga tumbuh dan berkembang di tanah Pasundan.

“Dan pemikiran Sukarno banyak dipengaruhi oleh karakter pergerakan Sunda. Di mana kita tahu bersama, Sukarno sempat belajar di Bandung,” kata Muhajir.

Sedangkan Tito lebih intres untuk membahas tentang Sarekat Islam yang menurut Tito merupakan transpormasi dari Sarekat Islam atau yang dulunya bernama Sarekat Dagang Islam. (Imam Mudofar)