Dari Lure, Jadi Dulur

KALANG20 views

​Pokemon Go: Games Impian Bagi Gen Milenial di Tasikmalaya

TASIKMALAYA, (KAPOL).-

Ada pemandangan yang khas di Kamis (22/7/2016) sore kemarin. Jika biasanya orang mengunjungi pusat perbelanjaan langsung menuju merchant-merchant di dalamnya. Tetapi tidak dengan belasan anak-anak muda, yang malahan tampak asyik di selasar luar salah satu pusat perbelanjaan ternama di Kota Tasikmalaya. Padahal sore itu cuaca tergolong kurang bersahabat.

Sepintas pun tak ada yang mencolok dari anak-anak muda tersebut, yang seperti tengah nongkrong pada umumnya. Begitu juga dengan gawai yang terus mereka genggam dengan dua tangan, tampaknya suatu hal lumrah saat ini. Beberapa ada yang serius memainkan jarinya di layar, ada juga yang hanya sekadar tap-ing saja, pun ada yang mengarahkan layarnya ke salah satu objek seperti tampak memotret sesuatu.

Semua itu menjadi berbeda, ketika salah satu dari mereka yang sedang duduk tiba-tiba berdiri dan nyeletuk, “Hayu ah ganti tempat, ka belah ditu tah, pokemon-na loba euy,” kata lelaki berkacamata yang menggunakan t-shirt hitam tersebut.

Ya, permainan populer yang tengah ramai diperbincangkan di berbagai lapisan dunia, yakni Pokemon Go, nyatanya juga telah ikut mencuri hati masyarakat Kota Tasikmalaya.

Meski yang dijumpai “KP” kali itu, mereka umumnya yang berasal dari generasi milenial. 

Namun menurut Founder sekaligus Admin Akun Instagram @Pokemon_Go_Tasikmalaya, Ihsan Rahadian, peminat games satu ini sebetulnya lintas generasi. “Kemarin juga sempat ketemu kok Bapak-bapak lagi main gitu, terus saya tanya deh, lagi cari monster ya Pak, Beliau mengiyakan,” tutur dia, di sela-sela gathering gamers Pokemon Go Tasikmalaya ini.

Ihsan juga menyebut Pokemon Go ini bisa dibilang adalah games tersukses sepanjang masa. Games ini pun ibaratnya angin segar dari kejenuhan games di device yang cukup stagnan, lantaran mengkombinasikan antara dunia nyata dan dunia virtual. “Kalau biasanya main games itu ya mainin orang lain, kalau ini kitanya itu diajak merasakan jadi Ash. Buat generasi yang dulu mengikuti kartun Pokemon dan selalu ingin jadi Ash, ya sekarang ibaratnya a dream comes true, gitu” tambahnya.

Para gamers yang datang sore itu mengaku rata-rata menghabiskan waktu dalam sehari, sekitar 2 – 5 jam untuk memainkan games besutan Niantic ini. Ada yang baru satu dua hari mencoba games ini, ada juga yang lebih dari dua minggu. Keseluruhannya mengaku tertarik bermain Pokemon Go, sama seperti yang Ihsan katakan, mimpi menjadi Ash Ketchum (karakter utama dalam kartun Pokemon, red) di kala kecil, membuat kepenasaran mereka terjawab dan sekaligus bernostalgia.

Misal saja, Germit (26), lelaki tinggi besar yang biasanya menggunakan kendaraan bermotor roda dua ini kini lebih memilih untuk berjalan kaki dalam kesehariannya. “Ya sih, demi cari pokemon. Seru juga ternyata, dan kalau jalan itu kita bisa lebih berpeluang banyak dapat kesempatan monsternya. Lagian sekalian saja olahraga, ini saya dua minggu-an main, sudah turun berat badan sekitar lima kilo-lah ada,” ungkap dia sembari tertawa renyah.

Lain lagi, dengan Adon (27), yang mengaku sering meminta teman yang diboncenginya untuk memainkan games Pokemon dia. “Kalau di jalan itu kan ada banyak, tapi kita bawa motor jadi gak bisa. Ya sudah, minta tolong saja teman yang di belakang untuk nangkapin monster,” kata dia.

Sedangkan, Lorenzo (22) malah sempat keasyikan main Pokemon Go, hingga diusir petugas. “Ya memang karena waktu itu saya main di pusat perbelanjaan itu sampai jam 2 malam, hahaha,” ujarnya sambil tetap terfokus pada layar. Lelaki berkulit putih ini salah satu dari 3 pemain di Kota Tasikmalaya yang telah mencapai level 22.

Menurut pemilik akun instagram @Ekibontot yang juga hadir di gathering kali itu, Pokemon Go pun memberikan efek positif bagi pemainnya. “Karena games ini juga bisa buat gamers itu gak lagi introvert, justru lebih berbaur dan jadi extrovert. Seperti sekarang saja, ini kan tambah lingkaran pertemanan baru lagi. Jadi, kita dari Lure, eh malah jadidulur,” kata warga Cikalang yang kuliah di UGM ini. Lure Module sendiri dalam permainan Pokemon Go ini semacam umpan yang ditanam di Pokestop, agar pokemon yang datang. Bukan kita sebagai user yang mencari. Dimana semua pemain yang berada di lokasi Pokestop yang ditanam Lure juga bisa menangkapnya.

Ihsan membenarkan hal tersebut, menurutnya dulur perpokemongo-an yang lebih dari 20 orang hadir kali itu, berasal dari berbagai kalangan dan daerah yang berbeda. “Kita semua gak ada satupun yang kenal sebelumnya, jadi ya bener-bener teman baru semua,” ujarnya.

Ada banyak titik lokasi yang terdapat di Kota Tasikmalaya untuk hunting pokemon. Dari Alun-alun, Dadaha, hingga pusat perbelanjaan. Menurut dia, hal itu bukan karena faktor khusus. “Ya memang acak saja sistemnya, biasanya ada di dinding mural, patung, tugu, lampu pun kadang bisa, intinya sih landmark saja. Dan lagi database peta yang mereka gunakan itu dari aplikasi sebelumnya Ingress, yang sayangnya tidak sepopuler Pokemon. Jadi, selama pernah masuk di Ingress, ya di Pokemon juga ada,” jelasnya.

Makanya, salah satu yang menjadi games ini makin menarik, karena membuat masyarakat lebih tertarik untuk ‘piknik’ mengeksplorasi tempat baru. Sembari cari pokemon, ya jalan-jalan juga. “Sayang banget kalau ada yang sampai cheating, pemain diam di rumah tapi avatarnya dimananpun, karena pake fake GPS. Lagian kalau ada biasanya ketahuan sama publisher langsung diwarning dan bisa dibanned akunnya,” tambah dia.

Tidak hanya berhenti di sore itu saja, rencananya, gamers-gamers ini juga akan melanjutkan Lure Party keduanya, besok Minggu, (24/7/2016) di Lapangan Dadaha. (Astri Puspitasari)***