Diam-diam Sphink Jadi Akademi Musisi Tasikmalaya

KALANG87 views

MULDAN Kusumah tak bisa dilepaskan sari Sphink. Pemegang kibod kelompok musik Tasikmalaya yang lahir pada 1975 itu menjadi sumbu penggerak. 

Sphink lahir dalam dua periode. Pada periode pertama tahun 1975 Sphink tidak banyak dikenal oleh para penikmat musik dan hanya bertahan tiga tahun. Setelah tahun 1980-an, Muldan kembali membentuk band dengan nama yang sama, Sphink.
“Saat itu genre yang tengah populer adalah pop rock. Dengan sentuhan kreativitas dari para personil, Sphink mengemas konsep Pop Rock menjadi Art Rock dengan berkiblat pada band Genesis. Akhirnya sejak saat itu Sphink kian dikenal di para penikmat musik Tasikmalaya,” ujarnya.

Karena Sphink mempunyai alat dan studio sendiri, Sphink sering latihan. Hal itu yang membuat anak-anak muda kala itu tertarik untuk ikut latihan bersama, yang pada akhirnya tercipta pendidikan musik tidak formal. Banyak yang belajar di sela-sela Sphink latihan. Melihat potensi yang luar biasa, akhirnya para kawula muda yang sering ikut latihan bareng Sphink, sering dilibatkan dalam setiap penampilan Sphink yang telah merambah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan kota besar lainnya.

“Contohnya ketika drummer kita tidak bisa ikut perform, kita coba ambil para junior, dari situlah tercipta siklus pendidikan musik yang secara tidak langsung menambah pengalaman dan wawasan mereka dalam bermusik,” tutur Muldan.

I barat ombak, ada pasang ada surutnya. Demikian halnya Sphink, yang tidak selamanya berada dalam masa jaya. Ketika Sphink mulai surut, para junior yang sering dilibatkan Sphink menyebar dan bergabung dalam band-band besar, sehingga setelah sekian tahun berjalan, para junior itupun menjadi legenda dengan band masing-masing.

“Kami sadar bahwa kami tidak bisa terus berkarya, perlu ada regenerasi guna memberikan warna baru dan menjaga eksistensi Sphink. Maka itu kami sering melibatkan para junior setiap Sphink tampil. Setelah melihat mereka sukses bersama band-nya masing-masing, ya kami bangga,” ujarnya

Melalui akademi tidak formal tersebut, Sphink dapat dikatakan sebagai bidan yang melahirkan para musisi-musisi ternama tahun 2000-an. “Kami sering melihat penampilan para musisi yang pernah mampir di Sphink, kami bangga mereka bisa besar, kami bangga bisa menularkan wawasan bermusik kami ke mereka,” ucap Muldan.

Muldan juga menyoroti perkembangan musik di Tasikmalaya yang menurutnya mengalami kemajuan yang luar biasa. Muldan berpendapat bahwa Tasikmalaya patut untuk dijadikan barometer musik di kancah Priangan Timur. Berbagai genre musik ada di Tasikmalaya, termasuk jazz yang dikategorikan genre yang sulit dikuasai. 

Di samping itu, perkembangan musik di Tasikmalaya juga dapat diukur dari banyaknya komunitas-komunitas musik, serta masuknya sekolah-sekolah musik nasional ke Tasikmalaya termasuk salahsatunya Purwacaraka. 

“Lebih dari setengah abad berkarya, saya tidak pernah absen mengikuti perkembangan musik di Tasikmalaya. Ini kemajuan yang sungguh luar biasa,” tuturnya. (Clara)