Kritis tapi Etis

Hari Buku pada Bulan Ramadan, Titik Balik Pencerahan

Ade Kartini | Staf Pengajar MA Al-Choeriyyah Cibeas Singaparna dan Pegiat Nasyiatul Aisyiyah Jawa Barat

TEPAT kiranya peringatan hari buku tahun ini. Mengapa tidak? Hari buku yang ditetapkan pemerintah pada tanggal 17 Mei, tahun ini jatuh pada bulan Ramadan.

Bulan suci bagi umat Muslim ini selain diyakini dengan bulan penuh keberkahan pun bulan dengan limpahan pahala dan rahmat.

Bertepatan dengan 12 Ramadhan 1440 peringatan hari buku nasional ini bisa menjadi titik balik kesadaran masyarakat akan pentingnya buku.

Sebuah buku yang memancing aktivitas membaca dan menulis merupakan sebuah amanat yang agung dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bukan tidak beralasan hal ini dikemukakan, kitab suci al-Quran yang turun pada bulan Ramadhan merupakan salah satu alasannya. Di samping itu ayat pertama yang Allah turunkan melalui perantaraan malaikat jibril adalah “iqra” yang artinya bacalah!

Sangat jelas bahwa perintah awal Tuhan pun adalah membaca. Bulan Ramadhan inilah yang harusnya menjadi momen evaluasi dan refleksi umat Muslim untuk kembali menumbuhkan budaya baca. Menumbuhkan budaya baca yang efektif hendaklah dilakukan dari dalam rumah.

Orang tua sebagai role model harus bisa mengupayakan budaya baca ini menjadi sebuah kebiasaan. Keteladanan orang tua menjadi sangat penting karena anak selalu menduplikasi apa yang dilakukan oleh orang tua.

Pembiasaan budaya baca ini tentu tak lepas dari bahan bacaan, diantaranya buku. Ada beberapa langkah yang bisa diupayakan agar kegiatan membaca menjadi salah satu aktivitas yang diprogramkan.

Pertama, sisihkan secara berjangka anggaran untuk membeli buku atau berlangganan koran, majalah, maupun tabloid. Hal ini sangat efektif dan menunjang apalagi menyediakan buku sesuai dengan usia dan perkembangan anak.

Kedua, jadwalkan kunjungan wisata ke perpustakaan bersama keluarga. Jadikan perpustakaan sebagai destinasi menarik saat liburan dan orang tua bisa memberikan sayembara dan penghargaan terkait hal ini.

Ketiga, menyediakan waktu luang di rumah bersama keluarga untuk berdiskusi mengenai buku yang dibaca oleh tiap anggota keluarga. Hal ini akan memberi kepuasaan tersendiri bagi anak dan memberikan kesan positif akan kegiatan membaca.

Keempat, membiasakan memberikan buku sebagai kado, hadiah, atau bentuk penghargaan lain baik untuk keluarga atau orang lain.

Kelima, desain ruang, kamar, lemari, atau rak buku seindah mungkin agar suasana kegiatan membaca menjadi menyenangkan.

Lima langkah tadi bisa diupayakan secara maksimal dan optimal jika orang tua kompak dalam menjalankan program tersebut.

Membiasakan anak membaca dan cinta buku bukan saja membudayakan hal positif namun sekaligus melaksanakan titah Tuhan. Ramadhan tahun ini bisa menjadi titik balik bagi diri seorang bahkan keluarga Muslim untuk menjadi pencerah budaya membaca dan agen pecinta buku.

Diskusikan di Facebook
Baca juga