oleh

Imam Daryono Manfaatkan Kefir Untuk Terafi Kesehatan

DI TANGAN Imam Daryono (43) warga Kampung Puteran Kidul, Desa Puteran, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, kefir dimanfaatkan untuk Terafi kesehatan.

Tidak hanya untuk penyakit ringan saja, tetapi kefir atau susu permentasi itu juga dimanfaatkan untuk terafi penyakit berat dan kronis. Hasilnya banyak masyarakat yang tertolong dan sembuh dari penyakit yang dideritanya.

“Alhamdulillah saat ini sudah banyak warga yang tertolong dan sembuh dari berbagai penyakit yang dideritanya berkat menkonsumsi kefir,” kata Bapak tiga anak itu.

Dalam sebulan lebih dari 1000 orang yang memesan kefir kepada Imam untuk terafi dan menjaga kesehatan. Sebanyak 80 persenya di komunitas dan sisanya offline. Jualan Imam saat ini sudah memanfaatkan media sosial dengan sebaran pembelinya di seluruh Indonesia.

“Untuk pemesanan itu dari berbagai daerah di Indonesia, ke Jayapura, NTB, Langsa Mentawai, Kalimantan tengah Bandung dan lain lain,” ujarnya.

Kata dia potensi usaha di kefir sangat tidak terbatas dan masih terbuka lebar. Bukan hanya dibuat minuman saja, tetapi kefir sudah bisa diolah menjadi aneka makanan lainya yang bernilai jual tinggi.

Saat ini omset yang diraih Imam Daryono dari kefir sudah mencapai Rp 15-20 juta tiap bulan. Dan itu bisa terus dikembangkan.

Di tangannya kini ada gula semut kefir kolostrum, kopi kefir, kefir kolustrum kapsul, wajit kefir dan termasuk untuk kecantikan dan pakan ternak serta pupuk dengan bahan baku kefir.

Mengobati Ibu

Kenapa Imam begitu tertarik kepada kefir dan menjadikannya untuk terafi berbagai penyakit, itu berawal dari kondisi ibunya yang sakit-sakitan.

Ia yang keseharian berjualan dompet itu begitu khawatir dengan kondisi ibunya yang menderita berbagai penyakit, jantung nya lemah, magg kronis, asam lambung asam urat dan asma. Ketika kena dingin sedikit saja dari isya hingga subuh pasti batuk.

“Saya mencari ramuan yang bagus buat ibu dan akhirnya jatuh hati ke kefir untuk kesembuhan ibu. Dan Alhamdulillah penyakit ibu sembuh dan sekarang ingin membantu orang lain dengan terafi kefir,” kata suami dari Ayu Syah Sutisna.

Imam sendiri memulai usaha jualan kefir sejak tahun 2016 lalu yang hanya berupa kefir cair saja. Namun sejak Januari 2019 kefir dikemas dalam bentuk kapsul dan juga aneka makanan lainnya seperti kopi, dan olahan lainya.

“Kalau sudah dijadikan kapsul itu bisa tanah lama sampai satu tahun di suhu ruangan. Di samping itu juga kefir kapsul itu lebih praktis,” katanya.

Dalam satu bulan ia bisa menjual antara 40 sampai 70 botol dengan harga satu botol dengan isi 100 kapsul Rp 175.000 untuk yang diproses menggunakan suhu panas atau hot proses. Sedangkan kapsul yang diproses dengan suhu dingin jauh lebih maha yakni Rp 300 ribu untuk satu botol dengan isi 100 kapsul

Kolostrum

Kefir yang dijual oleh Imam Daryono tidak asal kefir tetapi kefir kolostrum yakni kefir yang diproduksi dengan menggunakan bahan baku susu sapi kolostrum.

Harganya pun jauh lebih mahal jika dibanding dengan susu sapi biasa, karena susu sapi kolostrum itu hanya ada pas ketika sapi lahiran atau susu sapi pertama setelah lahiran.

Ia mendatangkan susu sapi kolostrum selain dari peternak lokal di Pagerageung juga dari peternak sapi perah di daerah Jawa dengan jumlah 30 liter tiap dua Minggu. Susu sapi kolostrum tersebut diolah menjadi biang kefir.

“Susu kolostrum itu memiliki banyak keunggulan untuk kesehatan makanya kita manfaatkan untuk terafi,” ujarnya.

Untuk kefir kolostrum harganya Rp 175 ribu dan satu liter susu bisa membantu penyembuhan 3 sampai 4 orang. Bagi yang kena kanker bisa minum kefir rutin selama satu bulan, insyaallah bisa sembuh.

Ada Sejak Jaman Rasulullah

Kefir sendiri kata Imam sudah ada sejak jaman nabi Muhammad Saw. Di mana saat itu Nabi Muhammad memberikan bibit kefir kepada penduduk Kaukasus yang memang mayoritas beragama Islam.

Warga Kaukasus menyebut kefir dengan sebutan the grain of prophet atau benih dari Nabi. Maka sejak saat itu masyarakat Kaukasus membuat minuman yang ternyata hanya dikonsumsi oleh kaisar dan raja-raja di Eropa, Asia Barat dan Timur Tengah.

“Jadi sejak jaman Nabi Muhammad kefir sudah ada. Hanya saja ramuan ini terus disembunyikan dan saat ini mulai terbuka kembali dan kefir memiliki banyak keunggulan untuk kesehatan,” terangnya.

Hanya saja kata dia untuk bisa mengembangkan usaha di bidang kefir ini terbentur dengan permodalan dan sulitnya mendapatkan ijin usaha dari pemerintah. Padahal permintaan masyarakat sudah sangat banyak dan masih belum berani menjual secara terang-terangan karena belum ada ijin. (Abdul Latif)***

BACA JUGA