Iyet Akhirnya Peroleh Kartu BPJS

HUMANIORA11 views

KEBAHAGIAAN tergambar jelas di raut muka Iyet Rahmawati (29), ibu rumah tangga warga Kampung Cibolerang, RT 1/7, Desa Karangsari, Kecamatan Karangpawitan.
Iyet kini memiliki kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan sehingga tak perlu repot-repot lagi kalau ada pihak keluarganya yang sakit.

“Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga mendapatkan kartu BPJS. Sebelumnya saya memang tidak memilikinya karena tak pernah didata,” ujar Iyet saat ditemui di rumah orang tuanya, Jumat (29/9/2017).
Iyet mengaku tidak tahu alasannya sehingga dirinya tak mendapatkan kartu BPJS Kesehatan. Tidak hanya BPJS

Kesehatan, dia juga tak pernah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang menjadi program pemerintah pusat.
Padahal, tutur Iyet, dia dan keluarganya tergolong warga tidak mampu yang jangankan untuk menyediakan biaya pengobatan, untuk makan sehari-hari saja sangat sulit.

Dengan hanya mengandalkan pemberian uang dari suaminya yang bekerja sebagai penarik becak di Tasikmalaya, kata Iyet, dirinya sudah bersyukur masih bisa makan sehari-hari.

Sementara selain harus memenuhi kebutuhan makan anaknya, Dede Alif yang masih berusia tiga tahun, Iyet juga harus mengurus kebutuhan ayahnya yang sudah tua. Sedangkan kiriman uang dari sang suami sangat tidak tentu dan tidak bisa diandalkan.

“Dengan menarik becak, penghasilan suami saya tentu tak bisa diandalkan. Dalam sehari kadang dia hanya mendapatkan uang yang hanya cukup untuk makannya sendiri di Tasik. Namun saya juga tak mau munafik, kadang dia juga suka transfer uang untuk biaya hidup kami di sini walau tidak besar,” kata Iyet.

Kondisi ekonominya yang seperti itulah menurut Iyet yang membuat dirinya sangat kebingungan manakala harus menyediakan uang sebesar Rp 2,5 juta untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan anaknya di Rumah Sakit Nurhayati.

Wajar kalau dirinya sangat panik, apalagi selama ini dirinya tak memiliki kartu BJPS Kesehatan dan juga Kartu Indonesia Sehat.

“Bagaimana tidak bingung, mau minta tolong, minta tolong sama siapa? Sementara dari pihak rumah sakit terus mendesak agar saya segera membayar biayanya kalau ingin anak saya bisa dibawa pulang,” katanya.
Beruntung, tuturnya, apa yang menjadi kebingungannya tersebut diketahui sejumlah jurnalis yang kemudian turun di sejumlah media sehingga akhirnya ada juga yang memperhatikannya. (Aep Hendy S)***