oleh

Komurindo-Kombat 2019, Modal Dasar Peningkatan SDM Keantariksaan yang Unggul

GARUT, (KAPOL).- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyelenggarakan kegiatan kompetisi edukasi keantariksaan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo) ke-11 dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) ke-5 dilaksanakan tanggal 24-25 Agustus 2019 di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Garut di Jalan Cilauteureun, Kecamatan Cikelet.

Kepala LAPAN, Prof. DR. Thomas Djamaluddin menyebutkan kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan kecintaan dan minat generasi muda terhadap teknologi penerbangan dan antariksa.

Namun mulai periode tahun ini, penyelenggaraan kompetisi itu akan dilaksanakan dua tahun sekali, beda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diselenggarakan tiap tahun.

“Tentunya ada alasan dan pertimbangan kenapa kompetisi ini diubah menjadi dua tahun sekali. Salah satunya untuk lebih mengoptimalkan persiapan peserta sehingga diperoleh hasil yang lebih berkualitas,” ujar Thomas, seusai kegiatan kompetisi, Minggu (25/8/2019).

Dikatakannnya, adapun jenis kompetisi yang diselenggarakan masih terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Muatan Roket dengan tema “Pemantauan Grafis Sikap Luncur Roket Uji Muatan dalam Visualisasi Odometri Tiga Dimensi (3D odometry graphics visualization).

Selain itu ada juga Wahana Sistem Kendali dengan tema “Perancangan wahana dengan propulsi EDF (Electric Ducted Fan) dan sistem kendali untuk mencapai sasaran secara horizontal”, serta Muatan Balon Atmosfer dengan tema “KOMBAT Rawinsonda for Tropopause Observation”.

Menurutnya, pada tahun 2018, telah dilakukan seleksi tahap I (proposal) yang meloloskan Tim Muatan Roket yang terdiri dari 30 peserta, Wahana Sistem Kendali 32 peserta, dan Muatan Balon Atmosfer sebanyak 30 peserta.

Selanjutnya seleksi Tahap II berupa workshop telah menyeleksi Tim Muatan Roket menjadi 20 peserta, Wahana Sistem Kendali 25 peserta, dan Muatan Balon Atmosfer sebanyak 24 peserta.

Thomas menyebutkan, dibanding dengan tahun 2017, terdapat peningkatan jumlah peserta untuk kategori Muatan Balon Atmosfer yang semula 16 tim menjadi 24 tim.

Hasil seleksi tahap kedua ini yang selanjutnya akan mengikuti uji fungsi dan uji terbang yang berlokasi di Garut sebagaimana disebut sebelumnya.

Komurindo tutur Thomas bisa menjadi wadah untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam melakukan rancang bangun, uji fungsional, sampai dengan uji terbang, terutama melalui pemahaman terhadap perilaku roket dan fungsi muatan.

Hasil rancangan tersebut diharapkan bisa menjadi cikal bakal lahirnya satelit Indonesia dan Roket Pengorbit Satelit (RPS) hasil karya bangsa Indonesia secara mandiri.

“Sedangkan wahana sistem kendali, dalam skala yang lebih canggih lagi dapat dikembangkan menjadi cikal bakal roket kendali dan sistem kendali untuk RPS. Dengan dikenalkannya generasi muda sejak dini, sekaligus menyiapkan calon peneliti dan perekayasa handal dalam rancang bangun wahana, sistem kendali, dan muatan,” katanya.

Masih menurut Thomas, Kombat diselenggarakan untuk memancing minat mahasiswa dalam mengembangkan ilmu dan perekayasaan teknologi pengamatan atmosfer dengan wahana balon sonde dan radiosonde.

Peserta juga dapat mengembangkan instrumen pengamatan untuk penelitian atmosfer.

Ia mengungkapkan, hal yang menarik dalam kegiatan ini peserta dapat memperdalam pengujian sistem pengukuran atmosfer berbasis telemetri.

Peserta dilibatkan dalam melakukan pengamatan atmosfer untuk mengukur parameter tekanan udara, temperatur, dan kelembaban.

“Observasi mengenai kondisi atmosfer ini merupakan satu instrumen penting dalam berbagai penelitian terkait cuaca dan iklim,” ucap Thomas.

Lebih jauh diterangkannya, generasi muda menjadi modal dasar untuk meningkatkan kapasitas SDM menuju kemandirian bangsa.

Sehingga melalui kegiatan ini, diharapkan mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan, dan nasionalisme untuk menjaga martabat dan kedaulatan NKRI melalui penguasaan teknologi penerbangan dan antariksa.

Thomas juga menyebutkan, kompetisi diselenggarakan LAPAN bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dan Pemerintah Kabupaten Garut.

Kegiatan tersebut termasuk rangkaian agenda besar dari peringatan Hari Keantariksaan yang jatuh pada tanggal 6 Agustus, Hari Ulang Tahun ke-56 LAPAN, dan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24. (Aep Hendy S)***

Foto | Sejumlah peserta bersiap-siap mengoperasikan roket hasil buah karyanya dalam ajang kompetisi edukasi keantariksaan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia yang diselelnggarakan di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Garut di Jalan Cilauteureun, Kecamatan Cikelet.

BACA JUGA