Pohon Literasi, Penanaman Minat Baca di SDN 1 Nagarawangi

EDUKASI323 views
Kepala SD Ene Rosidah tengah menunjukkan Prototype Pohon Literasi hasil kreasi guru, yang sebentar lagi akan diimplementasikan di SD Negeri 1 Nagarawangi Kota Tasikmalaya.

TASIKMALAYA, (KAPOL).-

Sebagai salah satu sekolah yang kini menerapkan kurikulum 2013, SD Negeri 1 Nagarawangi pun tengah memberikan penguatan lebih terhadap peningkatan budaya literasi di tingkatan anak didiknya. Seperti kita ketahui, wajib membaca buku setiap hari selama 15 menit sendiri masuk ke dalam arahan implementasi K13 tersebut.

Kepala SD Negeri 1 Nagarawangi Ene Rosidah S.Pd, M.Pd, menuturkan program Literasi Sekolah yang diwujudkan dalam bentuk Pohon Literasi, upaya pihaknya menanamkan minat baca di generasi penerus sejak dini. Terlebih kondisi saat ini menampakkan budaya baca semakin meluntur.

“Kami memahami apa yang ditanam hari ini tentu tidak serta merta akan langsung bisa dimakan hari ini juga atau dalam waktu dekat. Namun inilah bentuk investasi baca yang terus coba kami stimulus kepada anak-anak, kalaupun nanti minatnya ketika SMP atau SMA ya tidak masalah, benih-benih pembiasaan harus tetap ditebarkan,” ujarnya ditemui di sekolah yang berlokasi di Jalan Lukmanul Hakim Kel. Tugujaya Kec. Cihideung, kemarin.

Demi menyukseskannya misi tersebut pun, para guru yang ada tersebut didorong untuk lebih dulu mencintai budaya literasi. “Selalu kami tekankan, sebelum siswa membaca, ya guru dulu yang harus baca. Karena nantinya kan mendampingi, sehingga guru wajib tahun buku apa saja, bagaimana isinya,” kata dia.

Secara teknis, Ene menjelaskan, apabila guru selain mendampingi juga menjadi fasilitator siswa dalam mengakses bacaan. Di tiap kelas, buku-buku yang akan dibaca anak sendiri sebelumnya telah disiapkan guru. Umumnya buku referensi di luar pelajaran. “Kami tidak membatasi, mau baca komik, atau majalah juga tidak apa-apa. Karena yang penting terbangun dulu ketertarikan mereka untuk membaca. Makanya, pihak guru yang paling betul-betul kami siapkan, karena guru di sini dituntut pintar mengadopsi tema-tema, dari apa yang dibaca anak dikaitkan dengan pelajaran,” ujarnya. Selain juga, secara bergilir anak-anak sesuai jadwal diajak ke perpustakaan untuk memilih sendiri buku yang dibacanya.

Meskipun gerakan ini diterapkan di semua jenjang kelas, namun pihaknya fokus di kelas 1-4 sebagai yang mendapatkan implementasi K13. Menariknya, di tiap kelas, nantinya akan ada sebuah Pohon Literasi yang terbuat dari karton. Dimana anak-anak setiap selesai membaca buku, diharuskan menuliskan sedikit intisari atau yang mereka dapatkan dari buku, lalu ditempelkan di pohon tersebut.

“Selain guru akan lebih mudah memantau, ini bentuk apresiasi kami kepada mereka terhadap usahanya membaca. Dan lebih penting, dari tempelan kertas siswa ini, seluruhnya bisa sama-sama belajar dan mengetahui buku satu dengan buku lainnya,” tambah dia.

Ene mengharapkan penanaman budaya literasi sejak dini ini bisa ditindaklanjuti juga di rumah dengan dukungan tinggi dari orangtua. “Ketika semua pihak, dari pemerintah, sekolah, orangtua, dan masyrakat mengedepankan budaya literasi, tentu ekosistem yang berliteratur ini kami yakin akan lebih mudah terbentuk,” kata dia.

Sejauh ini dia melihat dengan kebiasaan baru ini, siswa tampak lebih aktif dan menikmati kegiatan belajar mengajar di kelas. “Akhirnya, kami harapkan bisa tumbuh juga karakter percaya diri pada mereka, karena wawasan baru yang didapatnya dari bacaan,” ujarnya. Rencana ke depan, guna mengoptimalkan Literasi Sekolah ini, dia pun ingin membangun sudut-sudut baca yang memungkinkan anak membaca buku dimanapun. (Astri Puspitasari)***