Puasa, Semua Siswa di Kab. Tasik Wajib Masantren

EDUKASI9 views

TASIKMALAYA, (KAPOL).-Bupati Tasikmalaya, H U Ruzhanul Ullum meminta para orang tua siswa mendukung program siswa wajib masantren. Karena itu untuk membangun karakter anak (karakter building) sehingga nantinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ahlak yang baik atau ahlakul karimah.

Untuk tahun ini, kata Uu siswa masantren bukan lagi himbauan tetapi sifatnya sudah intruksi yang wajib diikuti oleh semua siswa di semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP dan juga SMA SMK.

“Ini sudah tahun ke enam, makanya bukan lagi himbauan tetapi sifatnya intruksi, semua wajib masantren selama bulan Puasa ini. Dan orang tua saya minta ikut mendukung program ini, karena memang tujuannya untuk membangun karakter anak itu sendiri bukan untuk pemerintah,” tegas Uu Senin (29/5/2017).

Jelas Uu, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi semua umat Islam, yang hukumnya pardu aen yaitu kewajiban yang harus diikuti oleh semua umat. Beda lagi dengan kewajiban menuntut ilmu dunia sifatnya pardu kipayah yakni cukup hanya sebagian saja.

Tegasnya, para orang tua harus maklum dengan apa yang dikeluarkan pemerintah daerah di bidang pendidikan. Hal ini demi lahirnya generasi daerah yang berkualitas dan berkarakter.

Selama bulan Puasa ini pihaknya mengintruksikan semua siswa tinggal di pasantren. Ini dilakukan dalam upaya membantu para orang tua siswa dalam memenuhi kewajibannya kepada anak-anak.

“Mendidik anak itu kewajiban orang tua. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang soleh dan memiliki ahlak yang baik. Dan kami pemerintah daerah membantu meringankan beban itu melalui program yang dikeluarkan,” jelasnya.

Uu juga meminta kepada lembaga pesantren untuk bisa menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, dan juga tidak memberatkan dalam hal pembiayaan selama anak mondok di pesantren.

Sejauh ini banyak warga yang protes dengan adanya intruksi wajib masantren, karena tidak diimbangi dengan anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Sehingga banyak warga yang mengeluh dengan adanya biaya tambahan selama anak di pesantren.

Namun jika melihat dari sisi kewajiban sebagai orang tua dalam mendidik anak, tegas Uu anggaran yang harus ditanggung orang tua masih sebanding dengan apa yang diterima oleh para siswa.

“Saya pernah bertanya kepada para kiyai mengenai biaya yang harus ditanggung para orang tua. Dan itu kalu dihitung-hitung sudah sangat sebanding. Biaya itu dimanfaatkan untuk makan buka dan sahur sehari dua kali. Jadi sangat sebanding, semuanya dirasakan oleh anak selama masantren,” jelasnya.

Para orang tua tegas Uu harus bisa maklum dengan program wajib masantren ini karena memang itu semua untuk membangun karakter anak atau karakter building yang manfaatnya jelas bagi anak itu sendiri di masa depan.

Pemerintah hanya mengarahkan dengan mengeluarkan program yang tujuannya jelas agar masyarakat bisa menguasi ilmu agama yang lebih baik lagi sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi berkualitas.(Abdul Latif)***