Santri Laporkan Oknum Penghina Pesantren dan Ulama ke Polisi

LINIMASA35 views

image

TASIKMALAYA, (KAPOL).-

Tak terima pesantren dan ulamanya dihina di media sosial, ratusan santri dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari Kota Tasikmalaya mendatangi Makopolres Tasikmalaya. Masa santri yang bergabung dengan jamaah Nahdliyin (sebutan untuk jamaah NU) dari berbagai wilayah di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya melaporkan Ucup, warga Kampung Negla Kelurahan Setianegara Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya.

Lewat akun sosial facebook miliknya yang bernama, Zulqo Himavich, Ucup diketahui sudah menghina pesantren dan ulama Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH. Bustomi dengan tudingan “sebelas dua belas” dengan bandar miras. Ucup sendiri diduga merupakan relawan dari salah satu ormas Islam di Kota Tasikmalaya.

“Penghina pesantren dan ulama ini harus diadili secara hukum oleh pihak kepolisian. Karena tindakan ini sudah sangat melecehkan harga diri pesantren dan ulama,” kata Kordinator Aksi, Asep Rizal, Senin (20/6/2016) siang.

Sejauh ini, kata Rizal, pihaknya sudah berusaha untuk kooperatif dan tidak main hakim sendiri. Namun demikian, melaporkan yang bersangkutan ke pihak kepolisian merupakan langkah tegas jika santri dan warga Nahdliyin di Kota Tasikmalaya tidak terima ulama dan pesantrennya dilecehkan.

“Kita sudah cek ke rumahnya. Tapi yang bersangkutan tidak ada. Tidak ada yang tahu juga keberadaannya di mana,” kata Rizal.

Senada dengan Rizal, Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Asep Muslim mengatakan pihaknya sudah berkordinasi dengan PW GP Ansor Jawa Barat. Mereka memita bantuan agar rekan-rekan Ansor yang ada di seluruh Jawa Barat untuk mencari yang bersangkutan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Rekan-rekan di Kabupaten Tasikmalaya juga sedang berusaha mencari keberadaan yang bersangkutan,” kata Asep.

Asep sendiri berharapa agar aparat kepolisian bersikap tegas untuk mengusut tuntas dan mengadili Ucup yang sudah menghina ulama dan pesantren. Jika dibiarkan, ia khawatir akan terjadi gejolak sosial dimasyarakat.

“Warga Nahdliyin tidak akan terima jika ulamanya dihina atau pesantrennya dilecehkan. Dan 1996, Tasikmalaya pernah memiliki catatan kelam sebagai dampak dari penghinaan terhadap pesantren dan ulama.  Kami tidak ingin kejadian itu kembali terulang,” kata Asep. (Imam Mudofar)