oleh

Tiga Desa di Sukaratu, Terdampak Banjir Bandang

SUKARATU, (KAPOL).-Tiga desa di kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya terdampak luapan banjir bandang sungai Cibanjaran yang berada di kaki Gunung Galunggung, Kamis (28/3/2019). Dari catatan Pemerintah Kecamatan Sukaratu, tiga desa tersebut yakni Desa Linggajati, Desa Sinagar dan Desa Gunungsari.

Kejadian banjir bandang yang terjadi pada Rabu (27/3/2019) petang hingga malam ini setidaknya merendam ratusan rumah warga disana. Penyebab diketahui dari jebolnya tanggul aliran sungai pasca hujan cukup besar dengan intensitas besar terjadi lebih dari 4 jam. Kondisi ini membuat debit air besar dan meluap. Bahkan arah arus air lurus tidak mengikuti alurnya hingga masuk ke permukiman warga.

“Sejauh ini kita terus data jumlah warga yang terkena dampak luapan banjir bandang sungai Cibanjaran. Sebab kita ingin data ril bukan perkiraan,” jelas Camat Sukaratu Roni A.Ks.

Dikatakan dia, pihaknya langsung menerjunkan petugas guna mendata kerusakan, rumah yang terendam hingga warga yang terdampak, untuk kemudian dilaporkan ke Dinas Sosial. Dikatakan dia, sedimentasi atau pendangkalan sungai Cibanjaran memang sangat memprihatinkan hingga memerlukan normalisasi atau pengerukan. Upaya ini tentunya harus mempergunakan alat berat, sebab jika dilakukan secara manual sangat tidak memungkinkan.

“Kita sudah kordinasi beberapa bulan lalu dengan BKSDA agar dibuatkan bronjong penahan aliran air. Dari kebutuhan 300 beronjong, hanya 100 beronjong saja yang turun. Akhirnya tanpa diduga kejadian seperti ini,” tambah Roni.

Pada Kamis siang, kondisi mulai surut meski meninggalkan sisa banjir lumpur di rumah-rumah warga. Mereka pun kemudian membersihkan rumah-rumahnya. Meski begitu, kondisi di Kampung Babakan Kondang Desa Sinagar masih belum kembali normal, sebab air Sungai Cibanjaran berpindah jalur ke jalan perkampungan mereka. Hingga 8 kepala keluarga yang sempat diungsikan karena rumah mereka terendam masih was-was untuk kembali menempati rumah mereka.

Kepala Desa Sinagar Agus Sudrajat memaparkan, wilayah desanya tergolong cukup parah terdampak banjir bandang tersebut karena langsung berdekatan dengan tanggul sungai yang jebol. Disini setidaknya tercatat 25 rumah terdampak banjir dan luasan wilayah banjir mencapai 50 hektar, meliputi sawah dan kolam ikan. Pihaknya pun bersama tim kesehatan dan relawan telah membuat posko.

“Rata-rata tinggi air yang masuk ke rumah warga 50 cm. Kita pun telah menghimbau pada warga agar waspada bilama terjadi curah hujan tinggi,” jelasnya.

Untuk saat ini, pihaknya berharap agar segera dilakukan pembuatan tanggul darurat dan normalisasi aliran sungai Cibanjaran. Sebab jika tidak dilakukan kejadian serupa bakal terus terjadi. Kini pun air sungai telah berbelok dari jalur semula hingga masuk ke jalan permukiman warga. Pemerintah desa telah meminta bantuan pengusaha lokal disana guna meminjam alat berat. Dan kemungkinan besar bakal segera di turunkan ke lokasi.

Warga setempat, Hamid (62) meminta solusi dan penanganan cepat pemerintah terkait. Sebab hal ini menyangkut keamanan dan kenyamanan warga. Dikatakan dia, saat ini pendangkalan di aliran sungai Cibanjaran sangat memprihatinkan. Bahkan ketinggian sungai hampir sejajar dengan permukaan tanah disekitarnya. Kondisi ini yang membuat air meluap ketika ada intensitas hujan yang tinggi di atas hulu sungai atau di Gunung Galunggung.

“Perlu segara dibuatkan benteng penahan aliran sungai dan dilakukan pengerukan lumpur dan pasir di sepanjang sungai. Jika tidak begitu, maka akan kembali terjadi bencana serupa,” jelas dia. (Aris Mohamad F)***

BACA JUGA