​Menuju Transformasi Pembelajaran Abad 21

EDUKASI15 views

TASIKMALAYA, (KAPOL).-

Pembelajaran yang hanya bertumpu pada dinding kelas, papan tulis, dan kertas-kertas dianggap sudah kurang relevan dengan kondisi hari ini. Teknologi yang berkembang begitu pesat pun gilirannya menuntut era baru dunia pendidikan yakni transformasi model pembelajaran abad 21.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Achdiat Siswandi menjelaskan ada lima gagasan pihaknya terkait revolusi model pembelajaran ini, yakni paperless model education, moving class, coca cola model education, cyber virtual education, dan e-model management education. 

“Secara perlahan kami memang berupaya mendekati transformasi pembelajaran abad 21, karena dengan perubahan yang begitu cepat tentu adaptasinya menjadi tak bisa menunggu lagi. Apalagi karakter siswa yang dihadapi kini mereka yang dekat dengan teknologi, kalau masih pembelajaran pakai cara lama, tentu tidak akan sinkron,” ujar dia dijumpai di sela kegiatan seminar yang digelar di Raflessia Ballroom Hotel Santika, Kamis (22/9/2016) kemarin.

Achdiat mengarahkan guru juga sekolah untuk mau mengoptimalkan teknologi yang ada. Dia optimsitis dengan begitu, capaian pembelajaran pun akan lebih efektif.

“Merujuk coca cola model misalnya, pembelajaran artinya harus bisa dilakukan kapan saja, dimana saja. Sehingga ketika anak belajar materi pemerintah, langsung saja dibawa ke Balai Kota. Atau ketika mempelajari teori yang cukup rumit, media audiovisual yaitu film bisa digunakan. Artinya model pembelajaran sekarang itu ya multidimensi, tidak kaku,” imbuhnya.

Begitu pun dengan cyber virtual education, dia menjelaskan, guru tidak lagi terpaku hanya pada siswanya saja. Namun menjalankan perannya sebagai pendidik bisa kepada siswa mana saja tanpa melihat asal sekolah. “Di sini, misalnya ada yang konkritnya memiliki siswa 300, tapi di cyber virtual malah kurang dari itu. Pun sebaliknya, karena gaya mengajarnya kreatif dan menarik, di cyber virtual terus bertambah siswa yang ikut kelasnya. Untuk di luar negeri seperti ini sudah berjalan, dan kita harus persiapkan, karena sudah bergerak ke arah sana juga,” kata Achdiat.

Tidak kalah penting, menurutnya juga adalah umpan balik dari orangtua. Dimana materi yang dipelajari anak juga diberikan kepada orangtua. “Saya yakin banyak dari orangtua murid ini yang pakar di bidang A, B, C. Dengan ada umpan balik yang diberikan juga akan mengukur supaya materi yang diberikan guru tidak ketinggalan zaman,” imbuh dia.

Sementara, Head of Education Intel Indonesia Tommy Ferdianto menuturkan program roadshow yang telah berjalan enam bulan ke belakang ini tidak hanya menyasar kota besar, namun juga daerah terpencil. Melalui Program Intel Education, perusahaan teknologi raksasa ini pun menunjukkan komitmennya demi mendorong transformasi pembelajaran.

 “Kami berusaha mendukung revolusi yang juga dicanangkan Presiden, menggiring pendidikan dari hilir menuju ke tengah. Sebab di tengah dunia yang semakin pintar, dari sisi manusia atau SDM-nya pun mutlak mengimbangi agar terciptanya perubahan yang komprehensif,” ujarnya.

Setidaknya ada lebih dari 100 perwakilan guru dan kepala sekolah SMP, SMA, dan SMK se-Kota Tasikmalaya yang mendapatkan pencerahan kali itu.

“Kami percaya teknologi yang begitu pesatnya akan memberikan banyak kesempatan-kesempatan yang dapat digarap untuk mengubah dunia, khususnya di pendidikan yang memang menjadi tanggungjawab bersama. Maka, hari ini coba kami berikan lebih kepada perubahan paradigma pembelajaran demi berkolaborasi menuju peningkatan kualitas pendidikan,” kata Tommy. (Astri Puspitasari)***