Mengenal Lebih Dekat Dangiang Sunda Pakidulan (DSP)

BUDAYA384 views

image

KARANGNUNGGAL, (KAPOL).-
Semakin hari dunia semakin tua. Teknologi semakin berkembang. Arus modernitas sudah tidak bisa dibendung lagi. Kemajuan zaman jadi sesuatu yang diagung-agungkan. Bahkan tak jarang orang meninggalkan jati diri dan adat istiadat mereka karena tuntutan mengikuti zaman. Warisan adat, budaya dan tradisi seolah jadi sesuatu yang asing di tanah air sendiri. Bahkan di tanah kelahiran sendiri, tanah sunda.

Generasi muda hari ini lebih akrab dengan kemajuan teknologi ketimbang adat istiadat, seni, budaya dan tradisi. Jika dibiarkan, lambat laun semua itu akan hilang tergerus dan tersingkirkan oleh perkembangan zaman. Padahal itu semua adalah jati diri yang bisa menumbuhkan kebanggaan dan cinta atas tanah air ini.

Tidak ingin hal itu terjadi, beberapa orang berkumpul untuk merumuskan sebuah gerakan bertajuk “ngamumule budaya sunda.” Mereka yang berkumpul itu didominasi oleh orang-orang tua, budayawan dan penggiat seni tradisi sunda pakidulan. Mereka sepakat membuat sebuah komunitas yang mereka beri nama Dangiang Sunda Pakidulan (DSP).

Ketua DSP, Ki Ending menuturkan Dangiang itu berasal dari kata Komara yang artinya Wibawa. Bagi orang Sunda, arti Dangiang itu semacam daya tarik atau sesuatu yang menarik hati. Salah satu contohnya yakni manusia yang hatinya bersih dan memiliki nilai wibawa itu biasanya disebut besar dangiangnya.

“Maksudnya kita ingin adat istiadat, seni, budaya dan tradisi Sunda Pakidulan ini jadi daya tarik untuk menunjukkan wibawa kita, wibawa urang Sunda,” ujar Ki Ending.

Fokus dari terbentuknya DSP ini sendiri, lanjut Ki Ending, ngamumule adat budaya dan seni tradisi Sunda Pakidulan. Salah satu caranya dengan mengajarkan adat budaya dan seni tradisi Sunda ke generasi muda. Termasuk menggelar berbagai acara seni budaya.

“DSP didirikan sepuluh tahun yang lalu. Konsepnya komunitas. Rekan-rekan yang memiliki spirit yang sama berkumpul untuk sama-sama ngamumule budaya Sunda,” ujar Ki Ending. 

Hampir sepuluh tahun ini, DSP yang bermarkas di Karangnunggal Tasikmalaya itu hadir untuk memasyarakatkan kembali adat tradisi dan seni budaya Sunda yang kini kurang diminati masyarakat, khususnya generasi muda. Pelan-pelan, eksistensi adat tradisi dan seni budaya Sunda Pakidulan kembali lagi dikenal oleh masyarakat.

“Alhamdulillah DSP sekarang sudah menjadi yayasan dan baru saja diresmikan 12 Maret 2016 kemarin,” lanjut Ending. (Imam Mudofar)